Ku tengok ke kiri, ku ingat tragedi-tragedi yang terjadi di bulan November yang tersenyum sendu. November kali ini berbeda. Aku tertawa, aku menangis, aku jatuh cinta, aku sedih, aku terluka, aku tersenyum, aku bersalah, aku menang, dan aku kalah.
Ku tengok ke kanan, ku lihat Desember tersenyum misterius, seakan-akan hanya tinggal ia buka kepakan sayapnya, aku akan luluh dalam pelukannya. Aku berharap, aku mengingat, aku mengenang, aku berjuang.
November pun punya ceritanya, tentang aku, lelaki itu, dan harapan-harapan yang samar. Desember mungkin akan kembali melanjutkannya, siapa tau dia akan meretakkan sekat antara aku dan lelaki itu, ataukah aku yang harus berjuang lagi? Sendiri?
November kali ini terlalu melelahkan, terlalu berbeda. Ku harap Tuhan masih mengizinkanku bertatap sapa dengan November tahun depannya. Desember kali datang terlalu cepat pula. Ku harap Desember tak lagi membangkitkan rasa yang tidak perlu.




